Cerita Mudik 1438 Hijriyah

by - 9:00 AM

Ketika kita sudah merencanakan A, bisa jadi yang akhirnya kita lakukan adalah G atau bahkan Z. kira-kira begitu juga yang saya alami di idul Fitri kemarin. Jauh sebelum Ramadhan, saya dan suami berencana touring dari Bandung ke Yogyakarta untuk mengisi liburan idul Fitri. Tapi, di minggu pertama Ramadhan saya dan suami jatuh dari motor yang membuat kaki dan tangan suami tertimpa motor dan nggak bisa jalan, our plan was totally ruined. Haha

Karena tidak ada hal istimewa lain yang akan dilakukan di Bandung, maka kami memutuskan untuk mudik ke kampung halaman saya di Pringsewu, Lampung. Kami baru beli tiket Damri di hari ke-6 syawal waktu kami lagi main di pusat kota Bandung. Kami memilih Royal Class untuk perjalanan kami karena kelas inilah yang paling nyaman. Harga tiketnya waktu itu Rp 378.000/orang untuk berangkat saja. jadi total biaya yang kami keluarkan untuk membeli tiket DAMRI saya adalah hampir Rp 1,6 juta :v

Kami berangkat dari Bandung jam 7 malam Senin dan baru sampai di Pringsewu kira-kira jam 8.30. jauh lebih lambat dibandingkan dengan perjalanan normal yang biasanya kami sudah sampai di kampung halaman jam 4.30. Yah, namanya juga macet di jalan ya….
Kami di pringsewu cuma 1 hari, besoknya kami sekeluarga (saya, suami, ibu dan adik saya) sudah dijemput untuk main ke rumah paklik dan bulik saya, di Negara Ratu, Kec. Sungkai Utara, Kab. Lampung Utara. Baru tau ya ada nama desa kayak gini? Negara ratu ini lebih dikenal dengan sebutan Tran karena wilayah ini dihuni oleh transmigran dari pulau Jawa di jaman Pak Harto :D. Di desa ini, sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani dan peternak. Petaninya kebanyakan bukan di sawah dan menanam padi sih, tapi lebih banyak ke perkebunan kelapa sawit atau tebu.

Sama dengan di desa lain, rumah keluarga/saudara di kampung ini saling berdekatan. Selain itu, karena sebagian besar penduduk di sini adalah transmigran maka luas tanah yang dimiliki per keluarga sampai beratus-ratus meter. Di belakang rumah paklik dan bulik, berjajar kandang sapi dan kambing. Di antara rumah bulik-paklik, ada lapangan badminton buatan sendiri yang kadang dipakai juga utk main bola voli. Di sebelah lapangan itu, keluarga paklik-bulik masih bisa duduk-duduk santai di rerumputan sambil makan kelapa muda yang baru dipetik dari pohon di samping rumah. Masih ada pula lahan yang dipenuhi oleh pohon jengkol, pete, ketela pohon, dan tanaman lainnya. Kebayang ya gimana makmurnya hidup di desa ini.
lapangan badminton

Tapii…. baik di Negara Ratu maupun di Pringsewu, udaranya panaaaaas. Apalagi buat kami yang udah bertahun-tahun hidup di Bandung. Suami saya bahkan sampai mandi 4x sehari saking panasnya, haha :D. Selain itu derita kami paling cuman masalah sinyal internet yang hanya "GPRS", LOL.

2hari kemudian ibu dan adik saya pulang ke Pringsewu, sedangkan saya dan suami mampir dulu ke Tanjung Karang. Itung-itung sekalian silaturahim sama teman-teman yang di kota. Maklum, jarang-jarang kami bisa main rada lama di Lampung.
Seharian itu yang kami lakukan hanya makan-ngobrol-makan-sholat-makan lagi. Setelah isya’, saya udah kecapekan dan tidur di hotel saja. sedangkan suami saya melanjutkan silaturahim dengan teman kuliahnya dulu yang saat ini tinggal dan bekerja di Bandar Lampung. :D

Besok paginya saya dan suami pulang lagi ke Pringsewu. Sorenya, kami sudah naik DAMRI Jurusan Pringsewu-Bandung untuk kembali mengarungi samudera kehidupan, hehe.

You May Also Like

0 comments

InsyaAllah saya selalu berkunjung ke blog para pengunjung yang sudah meninggalkan komentar di blog saya. Yuk Silaturahim ^^

Instagram