Touring Bandung - Pantai Sawarna Bareng Geng Motor #1

by - 6:44 PM


Pantai Sawarna...

Tanggal 27 Desember sore si kakak atawa suami saya bilang (ngajakin, lebih tepatnya) dengan tampang datarnya bahwa akan ke salah satu daerah di Garut. Nah ternyata rencana ke Garut itu berubah menjadi touring ke Pantai Sawarna,yang awalnya saya kira masih di Jawa Barat, di menit2 terakhir keberangkatan. Waktu keberangkatannya pun berubah-ubah, yang tadinya pagi2 jam 5 jadi jam 11 malem. PHP banget kan? :D

Kita skip adegan dari pagi sampai isya ya. Sekitar jam 9 malaman, langit Bandung berubah mendung dan rintik2 hujan menyapa atap rumah. Saya udah mulai galau, jangan2 touringnya ga jadi. Huhuhu.  Padahal saya udah beberes dan beli tas baru *sekalian pengumuman beli tas baru :p*. Tapi request gorengin telor dari si kakak memudarkan pikiran itu. Apalagi sesudahnya si kakak mulai sibuk masang benda2 perlengkapan di motornya. Motornya jadi kayak motor touring di tipi2. Hehe Yey! Jam 11 malam saya udah di boncengan dan motor pun melaju menuju Jalan Burangrang-Kota Bandung, tempat berkumpulnya geng motor
Wolf Brothers sebelum touring ke Sawarna.

Saya takjub, di sana udah berkumpul sekitar 8 orang yang beragam usianya. Dari kakek2 hingga anak kecil berusia 6 tahun. Ih wow, saya ga boleh kalah sama anak krucil macam ini bocah. Setelah semuanya kumpul, kami berangkat berendengan. Di jalan, beberapa motor lain datang bergabung. Totalnya ada 9 motor pulsar dengan berbagai macam cc.

Di musim penghujan seperti ini, hujan datang dan pergi tidak bisa diprediksi. Kalau dihitung2, kami bongkar pasang jas hujan sebanyak 3 kali selama perjalanan Bandung-Banten. Hal itu membuat saya bisa memakai jas hujan kurang dari satu menit karena berlomba dengan turunnya air dari langit. B-)
Kondisi jalan yang kami lalui mulus saja kecuali di jalan Cianjur-Sukabumi. Jalan yang dari kejauhan mulus itu ternyata menyimpan banyak jerawat berupa lubang2 yang diameternya bermacam2. 

Untungnya dalam rombongan ini ada semacam tanda yang dipakai utk memperingatkan anggota yg lain. Kalau lubang berada di sebelah kanan maka kaki kanan sang ketua rombongan akan diangkat menunjuk ke lubang, begitu juga sebaliknya. Tanda itu (kaki kanan diangkat) juga dipakai utk memberi tahu motor di belakang bahwa kita akan menyalip kendaraan di depan.

Oya, saya lupa ngasih tau kelengkapan baju yang dipakai di perjalanan malam menggunakan motor inih. Pertama, saya pakai baju standar akhwat : baju+celana panjang. Trus saya make jaket rajutan trus dirangkap dengan coat warna cokelat tua. Kaos kaki yang saya pakai didobel dua dan memakai sepatu plastik dengan alasan agar bisa dipakai di pantai dan cepat kering setelah kena air. Tidak lupa memakai sarung tangan rajutan yang anget dan jilbab pashmina yg tebal dan panjangnya sekitar dua meter kupakai utk syal sekaligus masker yang bisa menutupi mulut hingga hidung. Semuanya membuat nyaman dan hangat di perjalanan yg dingin itu. Besok2 saya pengen beli pengaman lutut dan lengan ah.. Biar makin safe perjalanannya. Ingat, safety first utk perjalanan jauh, apalagi kalau pakai motor.

Balik lagi ke perjalanan. Setelah melewati jalanan berjerawat itu. Salah satu motor tiba2 mati karena tempat bensinnya bocor deras, analisa kami itu karena kejedug salah satu lobang di jalan. Akhirnya kami berhenti di persimpangan dekat TKP dan para bapak membantu memperbaiki motor itu. Ibu2nya? Ya tidur lah... Haha. Lumayan 20 menitan.
bersatu padu servis motor

Nah kami pun lanjutkan perjalanan setelah si motor itu dapat berjalan sebagaimana layaknya sebuah motor =D. Meskipun kadang2 motornya ngadat lagi di jalan. Tapi kawanan itu setia menanti para anggotanya sehingga rombongan kami jarang sekali terputus iring-iringannya.  Sekitar jam setengah 5, kami mampir ke masjid terdekat utk tunaikan sholat subuh dan beristirahat sejenak karena banyak yang ngantuk. Tu kan, geng motor juga inget sholat lho... =D.

Oya, di perjalanan itu saya sempet terkantuk2 di belakang si kakak. Tapi si kakak selalu tau klo saya lagi ketiduran, entah gimana caranya, dan berujung pada penabokan di kaki agar saya tidak tidur. Haghaghag
"Kakak kok tau saya ketiduran, padahal baru 2 detik..."
"Ya tau lah. Kalau diem berarti lagi tidur.."
Assyeem.. -___-"
Dan ketahuilah, melawan ngantuk itu tidak mudah, sodara2... Saya beberapa kali kena tabok di jalan. Muahahaha... =p

Perjalanan dilanjutkan menuju Pelabuhan Ratu-Sukabumi. Sampai di sana, sekitar pukul 7 pagi, kami galau menentukan tempat menginap dan mencari makanan pengganjal perut di pagi hari. Ada usulan kami mencari penginapan di sekitar Pantai Pelabuhan Ratu atau di sekitaran Bayah karena biaya yang cukup murah dibandingkan dengan di Sawarna. Tetapi banyak yang enggan, baik disuarakan ataupun dalam diam. =D. Setelah beberapa kali berhenti tanpa ada keputusan menginap dimana, minum kopi di kedai dekat pantai dan tidur2an di jalan. Perjalanan menuju Pantai Sawana dilanjutkan kembali. Dan sayah lapaarrr... =))

Di sepanjang perjalanan dari Pelabuhan Ratu ke Sawarna, pemandangan khas pantai selatan tersuguhkan dengan begitu cantik. Dari Pl. Ratu ke Sawarna kami harus melewati bukit karena sawarna ada di balik bukit yang kita lihat di Pantai Palabuhan Ratu. Keren? Bangeeeettt....!! Ah, pokoknya mah... Mulut ternganga2 melihat keindahan bumi ciptaan Alloh 8->

salah satu sudut Pantai Selatan
Sekitar jam 11, kami beristirahat kembali di bengkel utk memperbaiki motor yang sempat mati di awal perjalanan dengan lebih baik dan benar sekaligus =makan siang di warung nasi di dekat bengkel. Menu makannya benar2 kaya karbohidrat : nasi+mie goreng+tempet oreg+telur dadar. Saya bisa menghabiskan satu piring karena kelaparaaaaaan. =))

Dari situ, perjalanan tinggal sebentar lagi. Dan hujan rintik2 lalu menderas di perjalanan =)). Kami hanya tertawa2 sembari memakai jas hujan =D. Alhamdulillah, kami sampai di Desa Sawarna pukul 12an. 12 jam di jalan!!!

Dan benarlah saat itu musim liburan... Mobil2 berderetan di pinggir jalan utk parkir karena fasilitas parkir yg minim dan memang mobil tidak mungkin masuk ke lokasi wisata karena harus melewati jembatan gantung yg terbuat dari bambu dan kayu. Begitulah kami, para boncengers harus turun agar pengemudi motor bisa lebih tenang melewati jembatan yg cukup panjang itu.

Konyolnya saya waktu menyusuri jembatan yg rawan goyang2 itu adalah jas hujan yg kupakai kegedean di celananyaaa... *cuaca masih gerimis mengundang* padahal tangan kiri harus megangin helm dan tangan kanan pengangan tali pembatas jembatan di samping agar tidak jatuh ke sungai besar di bawah jembatan. Saya harus memprioritaskan keselamatan saya dong yaa... Peduli amat sama celana yg melorot. Jadilah celana jas hujan yg kupakai agak melorot dan menyapu lantai jembatan. Saya berasa bego banget  =)) =)) -___________-"

Begitulah kisah keberangkatan hingga sampai di Pantai Sawarna. Seru!


Bandung, awal tahun 2013.

You May Also Like

0 comments

InsyaAllah saya selalu berkunjung ke blog para pengunjung yang sudah meninggalkan komentar di blog saya. Yuk Silaturahim ^^

Instagram