Touring Bandung-Pantai Rancabuaya

by - 9:18 AM



Saya sudah merengek2 ke #uhuk suami saya alias si kakak untuk touring ke Rancabuaya atau Ujung Genteng sejak tahun lalu. Dari gaya manis manja sampai barbar sembari maksa. Akhirnya semua tipu daya dan jerih payah saya itu terbayar saat dia mengajak saya touring ke Rancabuaya, Garut. Katanya gini “just give me a little time…”
oke, saya terharu. Hehe.

Sabtu pagi tanggal 6 Juli 2013 sekitar jam 6 pagi, setelah mandi, sholat subuh dan sholat shafar kami sudah di atas motor, bersiap memulai touring ke Rancabuaya, sang Eropanya Jawa Barat. Rute yang kami pilih adalah lewat Pangalengan, Situ cileunca, teruusss… ke Garut via Cisewu. Pantai Rancabuaya terletak di Desa Purbayani, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut.

Istirahat dulu

Di pagi itu, ketika saya sampai di daerah Pangalengan, tangan dan kaki saya  nyaris beku
karena angin dingin yg menusuk tulang belulang. Kami istirahat sebentar buat sarapan: lontong kari dan beberapa gorengan Serta mencari perbekalan di minimarket terdekat. Kata si kakak di sana jarang ada warung.

Kami kembali meluncur ke jalanan menuju Pantai. Jalan berliku dan berkelok menjadi santapan utama saat touring waktu itu. Jalanan yang mulus sampai rusak karena diterjang hujan dan longsor dari perbukitan membuat perjalanan ini sangat dinamis.  Saya sempat kebingungan mencari masjid utk buang air kecil karena di kawasan itu rumah penduduk relatif jarang dan ukuran masjidnya kecil-kecil sehingga fasilitas mcknya tidak ada.
Jalan rada rusak kena longsor

Pada perjalanan itu kami melalui dua objek yang cukup mencolok selain sungai dan lembah2 nan hijau, yaitu
  • Jembatan yang sudah sangat mulus dan lebaarrr… kalau kata kakak, dulu jembatan penghubung daratan yang dipisahkan oleh sungai besar sangat minim fasilitasnya, sehingga mobil, motor atau bus harus bergantian memakainya. Tapi sekarang sudah sangat baguusss. Makasih banget buat Kang Aher, Pak Gubernur Jabar.
  • Air Terjun mini di pinggir jalan.
Jembatan jaman dulu
Jembatan sekarang
Di kawasan kabupaten Garut, kami benar2 melintasi bukit, naik turun bukit yang satu ke bukit yang lain. Kalau tidak salah hitung ada 12 bukit yang kami lewati sampai akhirnya kami melihat Laut di ujung horizon sana. Bisa ditebak, saya teriak2 di boncengan motor: “itu.. Ituh….. Di sana..  (lautnya) Baguuss…”

Di belakang itu laut
Sekitar jam 12.20 kami sampai di Pantai Rancabuaya dan saya langsung ke resepsionis salah satu hotel yang letaknya di dekat pintu gerbang. Alhamdulillah, room ratenya masih bisa dijangkau dompet kami sekitar Rp 300.000,-. Ruangannya sangat luas utk kami berdua dan ada acnya. Yaiyalah, demi apa klo tiga ratus ribu ga pake AC!

Setelah sholat, mandi, dan beres2 semua perlengkapan touring kami, saya berkelana ke depan hotel utk memesan makanan. Waktu saya ke rumah makan itu, saya diajak ke freezer yang isinya berbagai jenis ikan  yang ditangkap tadi pagi dan dapat langsung dipesan. Wow… ! Saya langsung pesan cumi2 sesuai permintaan suami dan masih bertanya2 bagaimana menghabiskan 1 kilo cumi2 saat berjalan pulang ke kamar penginapan. Tak berapa lama cumi2 datang dan seperti yg saya duga: porsinya kebanyakan buat kami berdua! Saya pikir 60 rb cumi2 dan nasi itu bisa utk makan siang 4-6 orang. Karena nasi dari warung makan itu diletakkan di sebuah “sangku” berukuran sedang. Saat itu kami hanya sanggup menghabiskan 2/3 porsi cumi.

Sebentar kemudian kami ke lokasi lain utk melihat garis pantai selatan.
Dan memang, perjalanan 6 jam dari Bandung sangat layak dijalani utk menikmati pemandangan yang menakjubkan.
 
Sekitar jam 3, kami kembali ke kamar dan leyeh2 sebentar, ngecas henpon dan kamera yang kami bawa. Jam setengah 5 kami menyusuri Pantai Rancabuaya dengan jalan kaki dengan kamera di tangan dan tak lupa jaket utk melindungi badan saya yang nyaris underweight ini dari paparan angin laut yang luar biasa besar. Kami tidak terlalu jauh menyusur pantai, biasa2 saja. Kami ga sampai naik2 bukit karang yang menjulang di sebelah timur kami. Jalan2, ngobrol sama anak kecil yg lagi main di pantai, dan motret sunset yang tertutup mendung.



Menjelang maghrib kami balik ke penginapan setelah sebelumnya memesan makan malam di warung makan yang sama dengan menu ikan syalala (ga inget namanya apaan -_-). Pemilik warung menawari saya utk memesan ikan yang beratnya 2,5 kg bersama dua orang bapak2 yang kebetulan sedang liburan di sana. Ok, Deal!

Ketika ikan syalala goreng itu sampai, kami lagi2 takjub karena ikan yg sudah dipotong jadi dua itu masih tetap besar ukurannya dan hanya sanggup kami habiskan separuhnya. Itu pun udah sambil dicemal cemil dengan sambel kecap. Lalu kami berinisiatip utk membungkus nasi dan lauk pauk yang ada bersisa utk sarapan besok pagi, lumayan kan?

Ba’da subuh esok hari, saya dan kakak kembali main ke ujung timur pantai utk melihat sunrise.
Kali ini make motor karena kaki udah lumayan capek. Dan well, matahari kembali tak terlihat sempurna karena tertutup mendung.Sejak kapan sih saya dapet sunrise atau sunset sempurna waktu main ke pantai? Haha

Kami tak berlama2 di pantai karena kami harus segera pulang ke Bandung. Kami rencananya mau susur pantai via Pameungpeuk. Oya, kami sudah mandi dan beres2 sebelum adzan subuh berkumandang karena waktu kami sangat terbatas. Sekitar jam setengah 7 kami sudah melaju di jalanan.

Perjalanan pulang kami diwarnai dengan jalan yang rusak cukup parah.
Entah karena hujan yang luar biasa dahsyat atau karena sering dilewati kendaraaan berat… atau keduanya. Hingga ada adegan mendorong motor karena motornya nggak kuat nanjak. =)).
Kocak memang waktu itu, jadi pas motornya stuck karena kepentok batu yang cukup besar, saya pengen langsung turun agar motornya ga jatuh. Tapi apa daya, posisi duduk saya yang kejepit di antara si kakak dan kotak ajaib di belakang, membuat saya harus berusaha keras utk melepaskan diri. Alhamdulillah si motor dan pengemudinya ga jatoh berguling di jalanan menanjak dan penuh batu itu. Adegan mendorong motornya pun jadi agak2 dramatis karena disorot matahari pagi yang baru mau muncul di ujung timur sana =D
Dorong motor
 Saat susur pantai itu, mulut saya lebih banyak diam dan mata saya tak bosan memandang di sebelah kanan jalan. It was a Wow moment banget karena garis pantai seakan tidak terputus. Apalagi ditambah dengan lokus2 persawahan yang sedang dipanen oleh petani setempat. Indonesia memang cantik!



Entah sampai mana, motor tiba2 berbelok dan kami memasuki gerbang yg bertuliskan
“Selamat Datang Di Pantai Santolo Indah Kabupaten Garut”
Waaaa….. Saya  benar2 senang.

Motor diparkir di dekat TPI (tempat pelelangan ikan) dan kami langsung cari tempat utk sarapan. Kami duduk di barisan bebatuan yang memanjang ke arah laut. Di samping kiri saya terlihat wisatawan sedang bermain banana boat lalu di kiri saya ada sebuah daratan lain yang dipisahkan dengan laut sejauh 10 meteran. Saya kira saya sudah ada di pantai Santolo, gataunya itu baru semacam “pintu gerbang”nya dan daratan yang saya liat sangat dekat dengan hidung saya itulah yang namanya Santolo.

Pantai Pembatas ke Santolo
Gerbang ke Santolo

Tapi begitulah takdir ya, meski sudah sangat dekat jika belum jodoh ya ga akan ketemu. Meski saya sudah merengek utk main “sebentar” ke seberang, si kakak menolak karena ga akan cukup waktunya. Heuheueheu. Oke, kami lalu fokus utk sarapan, meski saya masih sempet ngelirik2 ngiler ke daratan sebelah.
Pemandangan di perjalanan pulang
Kami kembali beberes utk melanjutkan perjalanan ke bandung setelah membeli 2 ekor ikan yg beratnya hampir 3 kilo. Perjalanan ini tidak jauh berbeda dengan saat kami berangkat yaitu perbukitan demi perbukitan dengan lembah dan jurang di pinggir2nya. Di sebagian besar perjalanan itu kami jarang mendapati pemukiman penduduk, hanya ada pohon, hijau, dan udara segar. Saya benar2 jatuh cinta dengan Jawa Barat.

Sekitar jam 4 lewat kami sudah memasuki kawasan Bandung, tapi tetap saja kami baru sampai rumah sekitar jam 7 karena tersendat macet di rancaekek. Macet yg benar2 luar biasaaa…
sampai rumah, kami langsung beres2 sholat dan istirahat.

Saat saya melihat tumpukan baju kotor di keranjang sudut kamar, mereka seakan2 berkata
selamat tinggal liburan, selamat kembali ke kehidupan nyata.
Semoga saya bisa touring lagi, destinasi yang saya inginkan adalah Ujung Genteng atau Santolo (yang beberapa tahun kemudian dikabulkan Allah).

Bandung, September 2013

You May Also Like

0 comments

InsyaAllah saya selalu berkunjung ke blog para pengunjung yang sudah meninggalkan komentar di blog saya. Yuk Silaturahim ^^

Instagram