Touring Bandung-Lampung #2

by - 5:58 AM


Gerbang Kabupaten Pringsewu, Lampung

4 januari 2014
Jam 6 pagi kami udah mandi dan makan nasi goreng dan teh manis. Tidak lupa si kakak saya kasih doping habbatussauda yang sebenernya agak kesiram sama minyak kayu putih. Hahaha. Jadi ceritanya, waktu kita mampir buat sholat jumat, kita baru tau klo minyak kayu putih yang kita simpen di salah satu tas tumpah ruah dan habis di jalan. Basahlah semua isi kantong tas itu: dompet (cuman sebagian sih), dan habbatussauda yang kami simpan di plastik. Waktu itu saya langsung mikir: ini ngerembes ke dalem plastic ga ya? Kayaknya iya deh karena gulungan plastiknya udah penuh sama minyak kayu putih. -___-“. Akhirnya pagi2 itu si kapsul habbatnya saya keluarin dan digosok2 pake tisu biar ga berasa banget. Trus diminum sama si kakak. Saya sih ga minum, haha

Sekitar jam setengah 9 pagi, kami pamit untuk pulang ke Bandung
dan bergegas menuju bakauheni kembali. Saat kami melewati jalur lintas Sumatera menuju Bakauheni, gerimis mulai turun. Saya yang bawa si konde di dalam tas langsung ngelepas syal di gulungan leher dan dipakai utk melindungi tas kecil itu. Kami waktu itu belum make jas hujan karena baru gerimis.

Di jalanan ini lah terjadi insiden yang mengubah arus kas bulan januari. =))
Jalur lintas sumatera ga terlalu padat, biasalah banyak truk sama bis yg mau nyebrang ke Pulau Jawa. Kondisi jalanannya juga lumayan bagus, bahkan jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan tetangga sebrangnya: Banten. Meski memang ada lubang di berbagai tempat dengan ukuran bervariasi. Nah, karena kondisinya gerimisnya lumayan gede, banyak lubang yang terisi air hujan dan ga gitu keliatan dari jauh. Sampailah suatu ketika motor yang kami tumpangi dengan kecepatan yang cukup tinggi (tapi ga nyampe 70km kok) melibas salah satu lubang yg cukup besar itu.

“Allohu akbar…” teriak si kakak. Klo saya sih teriaknya dalam hati. Motor direm mendadak, dan kami serentak melihat ke belakang dan melihat si box hitam givi yang setia menemani kami di setiap perjalanan melayang sekitar 5 meter dengan gerakan slow motion dan terlempar ke bahu jalan.
Wow!! Saya dan kakak diem dan saling pandang.

Saya bergegas turun dari motor dan lari ke arah si box. Alhamdulillahnya, si boxnya ini tau diri buat jatoh di pinggir jalanan dan nyungsruk ke bawah. Bayangin kalau boxnya melayang dan jatoh di tengah2 jalan raya… maka bisa saja akan terjadi kecelakaan beruntun di sana yang melibatkan truk, fuso, mobil, dan motor. -___-“. Sebelum saya ngambil si box, saya harus menyelamatkan beberapa irisan ban bekas yang dipakai buat bantalan box agar ga gampang terguncang di jalan. Usaha evakuasi box dan bantalannya sungguh merupakan hal dramatis. XD

Waktu kita liat, box itu ternyata putus bagian penguncinya karena lonjakan besar tadi. Dan kata si kakak: “yaudah, berarti udah ga bisa dipake boxnya.”
“Kakak, maap ya…” padahal ya bukan salah gue juga sih dan bukan salah siapa2.
“Ya gapapa. Berarti dia memang harus diistirahatkan. Setelah 3 tahun menemani..” Kata si kakak sambil nepok2 boxnya. Adegan yang mengharukan buat saya …… dan dompet. Sumpah ya, itu box ternyata mahal harganyaaa… hampir sejuta harga penggantinya. T_T

Tali Rafia, pengunci box motor
Karena kami ga punya peralatan utk memasang kembali si boxnya, maka saya harus memangku si box yg berat banget itu di boncengan motor di belakang si kakak. Kami mampir dulu di tempat oleh2 buat minta belas kasihan kepada pemiliknya utk memberikan kami tali rafia. Alhamdulillah, baek si mbaknya. Lalu si box ditali erat2 di belakang motor. Dan alhamdulillah lagi, sampai tangerang boxnya masih ada di tempatnya, ga pake loncat lagi.hehe

Kami di Tangerang nginep dulu di rumah salah seorang kawan baik si kakak dan saya juga kenal dengan mereka karena satu komunitas fotografi. Adalah keluarga hilal dan ima beserta adlan dan calon adeknya si adlan. Terima kasih atas tumpangan dan sajiannya ya. Sungguh sangat berharga bagi kami yang musafir dan pengelana ini. :’)

Oya, masih inget dengan pakaian saya yang seadanya itu? Efek pakain itu baru terasa di perjalanan menuju Tangerang: dada saya sakit dan agak sesak buat napas. Saya tau itu karena terpaan angin selama 3 hari dan capek di jalan. Itulah kenapa kalau touring idealnya pake pelindung dada.

5 januari 2014

Kami berangkat dari Tangerang sekitar jam 9 lewat. Tak lupa box-nya kembali diperbaharui ikatannya karena perjalanan ke bandung masih cukup panjang. Secara garis besar, rutenya kurang lebih sama : ke Puncak-Cisarua-Cimahi-Bandung.
Hari minggu dan puncak = macet. Perjalanan Bandung-Lampung-Bogor = capek.

Saat menuju puncak, badan saya udah capek dan dada masih terasa sakit karena angin. Selain mati gaya di atas motor, manuver posisi duduk udah stuck, dan punggung yang sangat butuh sandaran, kaki saya mulai kaku dan menuju kram. Waktu itu rasanya pengen pengen banget istirahat dan merebahkan diri di lantai. Di rerumputan, di atas semen, rumput, bambu, apapun itu. Terserah.
Di puncak pass kita istirahat di salah satu saung. si kakak duluan yang ngegoler, abis itu baru saya. Subhanallah, itu rasanya kayak surga. Beneran. Sumpah.

Puncak Pass
tepar di Cipatat
Kita lanjut jalan lagi sekitar jam setengah 2 siang. Dan ternyata istirahat di puncak itu bener2 ga cukup untuk pemulihan badan. Di Cipatat-Bandung (klo ke rumah masih sekitar 1 jam lagi), kita istirahat lagi di tempat jualan es kelapa. Di situ, saya bener2 ngegoler di atas dipan kayu. Masih lengkap dengan jas hujan yang kami pake waktu di cianjur karena wkt di sekitar cianjur, hujannya deres banget. Rasanya? Nikmat luar biasa…  beneran. Setelah lamaaa… di sana. Kita lanjut lagi ke rumah. Nyampe di garasi rumah jam 5.15 sore.

Maha suci Dia yang menyelamatkan kami berdua.

Pelajaran moral touring bandung-lampung-bandung
1. Persiapan baju harus maksimal. Minimal 3 lapis baju, klo mau 2 lapis aja, pastikan memakai rompi pelindung dada
2. Pastikan touring ke lampung bukan untuk penghematan. Dan pastikan untuk have fun karena hobi atau memuaskan ambisi. Karena terbukti ada banyak pengeluaran tak terduga yg bikin nyesek klo tujuannya cuman bwt hemat
3. Buat yg perempuan: pastikan bersama suami.
4. Yang dibonceng belum tentu tidak lebih capek dari yang mbonceng.
5. Suplemen ga boleh ketinggalan
6. Berbekamlah setelah touring.

Bandung, Januari 2014

You May Also Like

0 comments

InsyaAllah saya selalu berkunjung ke blog para pengunjung yang sudah meninggalkan komentar di blog saya. Yuk Silaturahim ^^

Instagram