Segenggam Cerita Dari Gunung Merapi

by - 12:12 PM



Gunung Merapi. Saya sebenarnya tak punya kenangan khusus tentang Merapi, tapi dulu si kakak, sebelum terjebak dalam kehidupan pernikahan bersama saya, pernah ke Merapi ketika Bencana Erupsi melanda tahun 2010an. Dia dan teman2nya pergi ke sana utk liputan dan ikut membantu trauma healing kepada anak2 melalui fotografi. Momen inilah yang menjadi salah satu latar belakang munculnya komunitas toekangpoto.

Oya, saya tiba2 nyasar di jogja karena ada pelatihan social mapping sama Bapak Bagus Aryo di daerah Kaliurang Selatan. 2 hari pelatihan syalalala, akhirnya sabtu pagi ba’da sholat subuh saya dan beberapa kawan dari kantor yg ikut pelatihan ikut touring naik jeep ke Merapi utk liat sunrise. Perjalanan ke Merapi pagi buta itu melewati jalur truk yang setiap waktu melintasi jalan untuk mengangkut pasir bekas erupsi merapi. Kata sopirnya, pasir2 itu memang harus diangkut
dan siapa saja boleh ngangkut yang penting ngurus perijinan dulu. Pasir erupsi ini katanya kualitasnya lebih bagus dari pasir2 biasa karena masih basah (atau apaa gitu ya? Haha). Intinya mah bagus aja kualitasnya, dan perputaran uangnya mencapai 1 Trilyun dalam 1 tahun. We O We. Karena itulah jalanan yang kami lewati penuh debuu… jangan lupa pasang masker.


Ternyata ga hanya jeep kami yang touring, pagi itu ada serombongan orang dari Perusahaan Entah Apa Saya Lupa juga sedang ikut Lava Tour. Ibu2 sama bapak2 yang logatnya jawa medok ribut sana sini buat foto di lokasi melihat sunrise. Waktu itu kami kira sunrisenya udah kelewat karena udah lumayan terang, tapi ternyata sekitar pukul 5.37 WIB (saya bisa tau persis karena ngeliat history foto hasil jepretan henpon =P) bola matahari baru muncul. Saya langsung ngacir ke tempat yang lebih tinggi utk memotret. Ah, saya rindu kamera saya waktu itu :D.


Setelah sunrise, kami meluncur menuju lokasi Bungker, saksi bisu erupsi Merapi 3 tahun silam. Diceritakan bahwa di dalam bungker itu 2 orang relawan ditemukan tewas.
 
Ceritanya begini:
Ketika ada lahar meleleh dari puncak gunung, para relawan yg sedang mengevakuasi langsung lari ke bawah. Namun 2 relawan tidak mau turun, mereka malah masuk ke bunker. Katanya “mau nyobain bunkernya: kuat atau nggak”. Allohu, ternyata itu adalah jalan dimana Malaikat Maut mencerabut nyawa mereka. Di dalam bunker mereka terpanggang hidup2. Salah 1 relawan ditemukan di dalam bak air, dan tentu… seperti direbus hidup2.
Saya benar2 jeri saat membayangkan sakaratul maut mereka, merasakan dari hangat  lalu panas lalu terbakar. Semoga nyawa mereka sudah dicabut terlebih dahulu oleh Izrail sebelum panas itu datang membakar. Aamiin.


Lanjut tentang Merapi, di touring itu juga kami diantarkan ke “museum erupsi” milik penduduk setempat. Yaitu sebuah rumah dipenuhi “artefak dan fosil” pasca erupsi. Di samping rumah ada beberapa warung yg menjual oleh2 khas merapi: jahe instan, kopi jahe instan merapi, dan banyak souvenir lain. Touring berakhir sekitar pukul 7.30 pagi.


"artefak"

You May Also Like

0 comments

InsyaAllah saya selalu berkunjung ke blog para pengunjung yang sudah meninggalkan komentar di blog saya. Yuk Silaturahim ^^

Instagram