Rihlah Ranu Kumbolo #3: Danau, Tanjakan Cinta dan Oro-Oro Ombo

by - 2:41 PM

“Huwaaaa tikussss… ya ampun… astaghfirullah”
Teriakan di pagi buta kala itu membuat saya melonjak kaget dari tidur. Melihat Mbak Nur dan Mbak Chana yg sedang mencari2 hewan bernama tikus dengan mata mereka, saya segera melepaskan diri dari jeratan Sleeping Bag. Ketika mbak Chana menyibak tumpukan barang di samping sesuatu yang dipakai jadi bantal tadi malam, sesuatu yang berekor berlari dengan sangat cepat dan keluar dari tenda kami ke tenda lain.

Karena kejadian itu mata saya yang tadinya ngantuk banget jadi segar bugar. Alhamdulillah, saya jadi bisa sholat subuh tepat waktu. Tapi setelah itu, saya tidur lagi, Hehe. Seluruh badan saya terasa remuk redam :D. Setelah hari agak terang, saya baru keluar dari tenda karena tidak mau ketinggalan sunrise. Dan ternyata saya memang cuman dapet bekas2nya aja.

 
Pagi sampai siang tidak ada acara khusus di Ranu Kumbolo. Kami hanya menunggu rombongan yg terhenti di Pos 3 karena salah 1 peserta terkena hipotermi tadi malam. Alhamdulillah tidak ada efek serius karena insiden hipotermia itu. Pekerjaan kami di Ranu Kumbolo hanya keliling danau, duduk2 di tenda, minum minuman panas, makan, ngobrol, motret, ngobrol lagi, makan lagi, sholat, jalan2 lagi, makan lagi. Haha. Bahagia banget kayaknya waktu itu.

rombongan pos 3, Hipotermia survivor
Ranu Kumbolo That Morning
    
lagi minta makan di tenda suami. saya masih aja kedinginan di sini




Siang hari, tiba2 hujan datang, kami langsung kembali ke tenda masing2 dan kembali tidur. Di tenda emak2, kami tiba2 berdiskusi tentang pernikahan kilat. Maklum, hanya saya yang menjadi pelaku nikah kilat alias nggak pake pacaran di antara kami bertiga. Ngobrolnya seru banget karena dua teman setenda saya kan sudah menikah bertahun2 sedangkan usia pernikahan saya baru 2 tahun… Siang itu kami bobok (lagi) di tenda masing-masing.

Sore2, kami semua kompak ngumpul di tepi danau untuk belajar motret. Karena saya waktu itu masih capek jiwa dan raga, setelah nimbrung sebentar di sesi belajar itu saya memilih melipir ke tanjakan cinta. Salah satu lokasi di Ranu Kumbolo ini sangat terkenal di seantero pendaki Gunung Semeru dan juga para penonton film 5cm. Mitosnya, siapa saja yang bisa berjalan di tanjakan ini tanpa henti dan tanpa menengok ke belakang jika sedang dalam keadaan jatuh cinta maka akan berakhir bahagia. #Eaaa #pretpisan.

Gimana? keliatan nggak gimana aduhainya tanjakan cinta ini?


begini tanjakan cinta dari atas
Kami serombongan malah menamai tanjakan cinta dengan sebutan “Tanjakan Kampret”. Alasannya:
  • Pertama, karena tanjakan yg terlihat menawan ini ternyata butuh waktu dan tenaga ekstra. Nggak bisa buru-buru atau cepet-cepet kalau lagi di tanjakan ini.
  • Kedua, hampir semua jomblo di rombongan ini tidak punya kisah cinta picisan bak sinetron indonesia atau remaja/young adult kebanyakan. Soal jodoh mah urusan Tuhan, gak ada urusan sama tanjakan kampret macam inih! hehe
Sampai di atas tanjakan, kami disuguhi pemandangan (mantan) padang lavender yang terkenal dengan nama Oro-oro ombo. Karena peristiwa kebakaran laknat beberapa waktu lalu, padang yg seharusnya berwarna ungu ini praktis berubah menjadi coklat. Nah, di sinilah letak kekaguman saya. Meski mungkin tak se-berwarna normalnya, ternyata tidak lantas mengurangi keindahan padang inih. Bahkan menurut saya Oro-oro ombo ini semakin eksotis!

Saya pun memutuskan untuk turun dari Tanjakan Cinta dan bermain di Oro-Oro Ombo :D.

Oro-Oro Ombo dan Pendakinya

You May Also Like

0 comments

InsyaAllah saya selalu berkunjung ke blog para pengunjung yang sudah meninggalkan komentar di blog saya. Yuk Silaturahim ^^

Instagram