Rihlah Ke Ranu Kumbolo, Semeru #1: Perjalanan Yang Sempat Ingin Dibatalkan

by - 1:05 PM

Rihlah ke Ranu Kumbolo adalah hal yang sudah direncanakan jauh-jauh hari. Klo tidak salah ingat kasak kusuk sudah mulai terdengar kira2 setelah kami ke Jogja di bulan mei kemarin. Iya, lama banget… :D. Saya sama si kakak mulai mempersiapkan semua toolsnya, kekuatan fisik, dan -terutama- duitnya :p. Karena perjalanan ini membutuhkan duit yg tidak sedikit. Da kita mah apa atuh, rumah aja masih numpang, hehe. Jadi mulailah kami berhemat sejak bulan September 2014, segala hal kurang penting sebisa mungkin di-postponed. Tapi tetep ya.. Kita aktif nonton di bioskop bulan2 itu *nyandar di pojok ruangan*. Alhamdulillah, Allah ngasih banyak jalan utk mengalirkan rizki ke kantong2 kamih. Dan persiapan perjalanan ini diawali dengan membeli tiket KA Matarmaja seharga Rp 65.000/orang.

Semangat saya dengan perjalanan ini naik turun seperti gabungan kurva sin-cos-tan. Dan di pertengahan bulan Oktober, saya tiba2 ingin perjalanan ini dibatalkan sama Allah meski saya ttp mempersiapkan segalanya: olahraga,  makan, ngecek tensi (yg masih hipotensiii…), juga searching2 (nyari pinjeman) peralatan macam sarung tangan, keril, dll. Iya, saya pingin Allah membatalkan perjalanan ini dengan apa yang saya ingin (bingung kan? Sama…). Saya gak merasa rugi sama sekali jika apa yg saya harap tadi dikabulkan sama Allah. Duit? Yaelah, ntar juga bisa nyari lagi, rejeki selalu ada sampai napas dicabut sama Allah kan?

Hingga sampailah di H-7, harapan saya yang tiba2 muncul itu tidak memberikan tanda2 akan dikabulkan, haha. Pada saat itu pula tabungan utk ke sana sudah cukup. Kami lgsg ngebut beli barang2 di H-2 dan H-1. Oya, kami juga bisa beli tiket pesawat untuk pulang ke Bandung. Pertimbangannya adalah karena sepertinya saya nggak sanggup kalau harus naik kereta lagi buat pulang ke Bandung. LOL.


Hari H perjalanan, Kamis, 20 November 2014.

Hari itu Jakarta kebanjiran (lagi), alhamdulillah perjalanan saya ke stasiun lancer jaya bak jalan tol. Kekhawatiran saya bahwa jalan akan semacet tadi pagi tidak terbukti sama sekali. Sesampainya saya di ruang tunggu, di sana belasan ransel sudah bertumpuk di pojok ruangan.

Sekitar jam 3 kami berbondong2 masuk ke pintu yg ada tulisan “Matarmaja”nya. Oiya, H-3 perjalanan, saya kehilangan KTP lhoo… beserta kartu2 lainnya: ATM, anggota Lab Pramita, dll dan beberapa ratus ribu, hehe. Alhamdulillah saya punya identitas lain berupa Paspor, jadi saya bisa masuk tanpa kesulitan apa2. Ternyata bikin paspor itu memberi manfaat di saat2 beginih :D. *ketjup mesra paspor yg belum ada stempelnya



Peserta “rihlah” inih ada sekitar 39 orang yg terdiri dari berbagai macam usia dan berasal dari beberapa kota: Jakarta, Bogor, Medan, Yogya, Bandung, Jatim. Selain rombongan Jatim, semua peserta yang jumlahnya 23 orang berkumpul di Stasiun Senen. Finally, 27 orang yg kumpul di stasiun senen itu merayap ke Malang bersama kereta tua dengan AC yg nyala tapi keberadaannya tidak terasa. Hehe.


Oya, saat itu sekitar 10 menit sebelum kereta jalan. Ada 3 orang yang belum keliatan batang hidungnya: Mbak Tyarin, suaminya, dan Sepupunya (eh, apa adeknya yak? Lupa sayah :D). Saya ikut bantu menghubungi mbak tyarin karena khawatir mereka ketinggalan. Waktu berhasil ditelpon, katanya sih mereka bentar lagi nyampek, jalanan macet. Saya waktu itu masih bertanya2 dlm hati: “sebentar laginya berapa menit? Udah jam seginihh…. Ya ampuunn…”. Beberapa saat kemudian terjadi keributan di luar kereta, dan seketika saya liat dari jendela (yg tentu saja sudah dipenuhi oleh tubuh para peserta lain yg ikutan curious sama kejadian di luar) mbak tyarin dan yg lainnya lari tergopoh2 ke kereta. Kang Dudi ikut membantu membawakan keril agar larinya lebih cepat. Alhamdulillah 3 orang itu sampai di kereta dengan selamat sentausa. Setelah nafas normal, mbak Tyarin bilang ke saya “tadi tuh udah hampir mau nangis waktu di taksi…”. I feel her lah ya.. Pernah mengalami hal yg mirip2 soale :)).


Perjalanan kereta ini adalah yg paling lama dan paling panas yg pernah saya rasakan. Tapi dalam kondisi seperti saat itu, semua kesusahan terasa sangat menyenangkan karena saya gak sendirian, ada 26 orang lain yg merasakan hal yg sama. Toh nyatanya saya bisa tidur juga di kursi ekonomi itu. Saya sih kasiannya sama si kakak, karena doi sebenernya gak gitu suka naek kereta ekonomi :p. Klo jalan sama saya dia pasti milih kereta eksekutip :v. Makanya, waktu si kakak pingin tiduran di pangkuan sayah, saya setuju2 aja. Kasian itu… anak orang… #eh


Hari Jumat, 21 November 2014 pukul 08.01 WIB

Kereta tua itu akhirnya bersandar juga di stasiun Malang. Kami semua berkumpul di sekitar toilet di dalam stasiun utk membersihkan diri. Namun apa daya, airnya ternyata mati, saudara-saudara… akhirnya kami mencukupkan diri dengan tisu basah utk mengelap wajah, tangan, dan bagian tubuh lain. Tapii… ternyata Allah ada bersama saya: air tiba2 ngucur waktu saya masuk ke toilet mau buang air kecil dan dengan air seadanya. Saya waktu itu udah ngantongin sabun muka dan sikat gigi. Voila.. Kesempatan emas buat saya utk membersihkan wajah dan gigi dengan lebih paripurna. :p

bongkar muat ransel di angkot

Sekitar jam 9 kami bertolak dari Stasiun Malang ke Tumpang menggunakan 3 angkot. Keril ditumpuk-tumpuk di atap angkot. Semarak banget deh liat si angkot itu :D. Sesampainya di Indomaret Tumpang, kami leyeh2 sebentar sambil ngemil2 cantik di Teras Indomaret. Kemudian datanglah Sang Tuan Rumah yaitu Pakde Ikmal Aftoni. Seorang bapak yang sangat tulus, sabar, dan ikhlas bgt menerima gerombolan macam kami ini.


November 2014

You May Also Like

0 comments

InsyaAllah saya selalu berkunjung ke blog para pengunjung yang sudah meninggalkan komentar di blog saya. Yuk Silaturahim ^^

Instagram