Menemui Morea, Si Belut Raksasa Dari Ambon

by - 9:00 AM


Pernah membayangkan gak klo ada Belut segede ular phyton?
Saya ga pernah ngebayangin sih, tiba2 aja saya ketemu sama gerombolan belut itu waktu saya ke Ambon beberapa waktu lalu.

Tepatnya di Desa Tulehu, Kecamatan Salahutu, Ambon. Beberapa jam sebelum saya pulang ke Bandung. Saya diajak oleh Ibu Dian, seorang ummahat yang setia dengan Ambon meski berkali-kali terjadi kerusuhan hebat.

Sekitar jam 12 siang kami sampai di sebuah kolam pemandian yang besar. Terlihat beberapa orang sedang melakukan aktivitas khas desa seperti mandi, berenang, keramas, mencuci baju, dan, Wow, jernih sekali airnya. Ketika saya menyusuri kolam hingga ke ujung, ternyata kolam ini airnya mengalir sehingga dapat dipastikan airnya akan terus jernih. Dan di ujung kolam itu ada beberapa gerombol pohon sagu. Yang sudah dimaklumi pohon itu adalah penanda sumber air. Mirip-mirip sama pohon kurma di oase padang pasir kayaknya ya…



Untuk mengundang Morea aka Belut Raksasa ini agar muncul ke permukaan, kita hanya perlu menyediakan bau amis darah. Sehingga kami membeli ikan laut Rp 20.000,- ke penduduk di sekitar situ karena kami tidak menyiapkan sebelumnya. Jadi kalau misalnya kita pengunjung bawa ikan sendiri itu tidak apa2, nggak akan kena penalty. Kami juga tidak dikenai biaya apa2 saat berkunjung ke kolam tersebut. 



Beberapa saat kemudian seorang laki-laki berlarian dengan membawa 2 keresek ikan segar. Tak berapa lama, beberapa orang laki-laki remaja dan dewasa segera menyelam sambil membawa ikan yang sudah dipenyet2 hingga keluar darah dan air serta tercerai berai dagingnya. Intinya mah biar bau amisnya itu pekat. Dan tak lama kemudian muncullah sesuatu berukuran besar menuju ke arah kami, dan tiba2 sekumpulan morea sudah mengerubuti daging2 ikan yang berceceran di pinggir kolam.

Saya berdzikir berkali-kali karena tidak menyangka ada makhluk semacam itu di air tawar. Ukurannya sangat panjang, berwarna khas belut, dan tentu saja.. Sangat gendut. Panjangnya si belut ini bahkan hampir melebihi tinggi seorang anak laki-laki! Waktu si Morea ini dipancing utk naik ke pinggir kolam, saya terkaget2 ngeliat betapa gembulnya si morea ini. Saya sempat mengira bahwa ini adalah hasil perkawinan antara belut dan lele. Yang setelah dipikir2 adalah sebuah teori yang impossible haha

Semua warga yang sedang berenang, mandi, keramas, dan cuci2 cantik itu tidak merasa ter-distracted dengan kemunculan puluhan morea. Anak-anak kecil berusia 8-10 tahun juga nyantai-nyantai aja berenang zigzag, horizontal, diagonal. Tak jarang mereka berpapasan dengan si belut raksasa, yang memang hobinya nyari makanan abis itu balik lagi ke sarang mereka, dan mereka ga shock atau apaa gitu. Mungkin itu karena Morea sudah setua peradaban manusia di Tulehu. Dan tau gak gaes? Si Morea ini meski debit air setinggi apapun, dari berpuluh tahun lalu mereka tetap ada di sana. Ga pernah ada yang hanyut trus menghilang.

Dalam kultur budaya sana, tidak ada yang boleh mengambil Morea apalagi utk memakannya kecuali dengan izin “Raja” di sana. Klo kata Ibu Dian, Raja yang dimaksud adalah keturunan dari kerajaan Ternate Tidore. Gataulah ya berapa puluh atau ratus keturunan setelah jaman itu. Jadi bukan Raja kayak di Yogyakarta, dan raja-raja ini memiliki daerah kekuasaan sendiri. Mungkin semacam Landlord gitu kali yak… *sotoi*

Lanjut lagi tentang si Morea, kami lalu membeli ikan lagi karena belum puas melihat si Belut. Dan benarlah, Induknya nongolll… gede banget. Saya bergidik, kagum, terpesona, ngeri, sama penasaran. Masyaallah, Ciptaan Allah memang benar2 luar biasa.

Bandung-Ambon, November 2014

You May Also Like

0 comments

InsyaAllah saya selalu berkunjung ke blog para pengunjung yang sudah meninggalkan komentar di blog saya. Yuk Silaturahim ^^

Instagram