Mabok Berat di Pantai Santolo, Garut Selatan

by - 6:40 AM


Pantai Santolo

Dari awal bulan, si kakak sudah rajin mendengung2kan ke telinga saya klo kita akan ke Santolo di pekan 2 Mei. Saya langsung oke aja karena memang penasaran sama Santolo. Secara, sebelumnya saya udah pernah hampiiirrr nyebrang ke pantai itu. Tinggal nyebrang doaaanggg…. -____-“. Tapi nggak jodoh pisan waktu itu. Dan ini bukan private trip kyk waktu ke rancabuaya, tapi bareng2 sama temen-temennya yang lain. Ah, gapapa. Yg penting main!

Hari Sabtu, jam 10 malem kita berangkat dr Bandung dengan 2 mobil. Selama perjalanan itu, saya benar-benar tersiksa. Sumpah, saya ga pernah nyangka kalau rute yg sangat fun, senang2, dan hura2 waktu touring pake motor berubah jadi adegan pemerasan getah lambung selama 2 jam terakhir.
Dari Bandung ke Garut via Pangalengan adalah gunung dan perbukitan. Rute jalan khas perbukitan adalah berkelak-kelok dengan sangat ekstrim. Awalnya saya mencoba “setrong” dan tegar agar nggak mabok dengan berbagai macam metode: pura2 tidur, dsb. Tp ternyata ga ngefek. Haha. Waktu saya melek dikit, kepala langsung pusing nggak karuan. Setelah berkali-kali menipu diri… akhirnya saya ga bisa menahan serangan dari lambung. Dan muntahlah saya
, haha. Ini pertama kalinya saya muntah di kendaraan sejak belasan tahun yang lalu.


Perjalanan dengan motor dan dengan mobil ternyata bisa benar-benar berbeda efek dan pengalamannya. Nggak hanya ke kenangan tapi juga dampak ke badan :D.


Alhamdulillah, saya muntah hanya 2x selama perjalanan dari jam 10 malam sampai jam 3.20 pagi. Ketika mobil sudah sampai di kawasan pantai, saya langsung lompat dari mobil dan memilih jalan kaki ke lokasi penginapan untuk meredakan mual dan pusing. Jam setengah 4 kami ke kamar. Lalu saya tidur sampai jam setengah 6 karena badan saya tiba2 nge-drop kondisinya setelah adegan muntah di mobil. Untungnya saya jg lagi ga sholat.


(harusnya) sunrise
 Jam setengah 7 pagi kami udh mulai berkeliaran dan nyari sarapan deket penginepan. Setelah itu kita nyebrang ke Pantai Santolo via perahu milik nelayan lokal. Jenis perahunya ada dua: didayung dan menggunakan mesin. Kita bayar Rp 2.000 per orang.
gerbang santolo

Jernih kan airnya,

Waktu sampai di tepi pantai, waw….
It’s unbelievable.
Airnya jernih banget, serius, jerniihh pake banget.
Pasirnya juga lembuuttt banget. Enyoy kalau diinjak kaki :D
Kalau kita berdiri di pantai, maka di depan kita itu udah laut lepas. Ga ada halangan apa2.
Sepanjang yang bisa diliat hanyalah laut dan laut. Kalau lagi fit, saya akan maksa buat jalan kaki ke arah laut karena airnya ga terlalu dalam, Di sekian ratus meter di air yang dangkal itu baru deh ada ombak yang bergulung2 dan besaar.

Di sebelah kanan pantai (maap gatau itu arah barat atau selatan atau mana) ada semacam mantan pelabuhan jaman Belanda. Waktu ke sana, masih keliatan kok bentuk pelabuhannya. Tapi memang beberapa sisi udah banyak yang runtuh diterjang ombak. Dan spot itu dipakai oleh beberapa orang utk mancing dan sebagian penduduk lokal menjadikan kanal yang dibentuk utk sekoci/perahu kecil dari kapal induk merapat, untuk mencari koin yang dilempar oleh pengunjung ke dasar laut.
Kemudian, karena saya udah kyk mau pingsan, si kakak megangin saya dan nuntun saya sampai ke gubuk yg kami pinjam untuk beristirahat. Saya kurang tau penggunaan gubuk itu dikenakan biaya atau tidak.
sang mantan pelabuhan
Sampai di gubuk ternyata teman-teman kakak lagi sibuk masak udang segar yang dibeli dari nelayan dengan peralatan kompor gas portabel, happy call, mentega, dan kecap pedas.
Meski badan saya sudah terasa melayang-layang, saya nggak mau ketinggalan acara makan udang. Waktu nyicip udangnya, asliii enak banget. Udangnya banyak dagingnya karena ukurannya gede, gurih, dan manis. Beda lah rasanya dengan udang yang dibeli di pasar. 2 kilogram udang langsung habis dalam sekejap. Haha.

udang masak seadanya
Setelah itu baru deh ikan tongkol yang jadi masakan. Cara masaknya jg kurang lebih sama dengan si udang, karena kita cuman punya bumbu itu doang :D. Ikannya paling cuma dibelah dua agar cepat mateng. ;)

Abis itu saya benar2 tepar, tiduran di gubuk karena badan yg sudah gemetar dan semakin panas. Sekitar jam setengah 1 kita balik ke penginepan dan mandi. Pas adzan ashar, 2 mobil itu bertolak ke bandung.

Karena saya tau saya akan muntah lagi saat lewat rute pegunungan, maka saya menenggak 2 butir antimo. Dan… saya langsung tidur 15 menit kemudian =)). Saya cuma bangun waktu mobil berhenti dan saya pengen buang air kecil. Selebihnya saya tidur. Efek negatipnya: jiwa dan badan kayak ga sinkron. Waktu saya ngomong, suara saya seperti terdengar di kejauhan. Jalan kaki juga terasa melayang, harus dipegangin. :))

Begitulah akhir perjalanan saya di santolo. Status saya sakit sampai hari ini, Senin Tanggal 19 Mei. Alhamdulillah kondisi badan udah baikan, tinggal batuk aja yang masih enggan enyah dari tubuh.

Bandung-Garut, 17-18 Mei 2014

You May Also Like

0 comments

InsyaAllah saya selalu berkunjung ke blog para pengunjung yang sudah meninggalkan komentar di blog saya. Yuk Silaturahim ^^

Instagram